AIChinaPasar SahamInvestasi

Gelembung AI di China Sudah Pecah, Bukan Akan Pecah

Reuters menyebut gelembung AI China sudah pecah: indeks STAR50 anjlok 40 persen dalam empat bulan dan 480 miliar dolar AS menguap. Yang runtuh bukan teknologinya, melainkan harga yang dibayar pasar untuk ceritanya.

Lutfi Ikbal Majid
Lutfi Ikbal Majid
4 min read·Oct 30, 2026
Gelembung AI di China Sudah Pecah, Bukan Akan Pecah

Ada beda besar antara “gelembung akan pecah” dan “gelembung sudah pecah”. Yang pertama adalah ramalan yang bisa didiskusikan bertahun-tahun. Yang kedua adalah kejadian yang sudah punya angka.

Minggu ini Reuters menerbitkan analisis dengan judul yang tidak menyisakan ruang tafsir: di China, gelembung AI sudah pecah. Bukan peringatan, bukan skenario. Dan setelah membaca angkanya, menurutku judul itu tidak berlebihan.

Angkanya dulu, baru ceritanya

Indeks STAR50, yang menghimpun perusahaan AI dan semikonduktor papan atas China di bursa Shanghai, anjlok sekitar 40 persen dalam waktu kurang dari empat bulan. Nilai pasar yang menguap diperkirakan mencapai 480 miliar dolar AS, atau sekitar Rp8.600 triliun.

Indeks yang lebih luas, CSI 300, ikut turun sekitar 20 persen dari puncaknya di bulan Juni. Dalam bahasa pasar, itu sudah masuk wilayah bear market. Saham-saham AI bukan pemain pinggiran di sana: menurut Goldman Sachs, mereka menyumbang 42 persen kapitalisasi pasar China dan 57 persen nilai transaksi harian. Jadi ketika sektor ini jatuh, hampir tidak ada investor yang bisa bersembunyi.

Nama-nama besarnya ikut terseret. Unitree, produsen robot humanoid yang penawaran saham perdananya sempat kelebihan permintaan sampai ribuan kali, kehilangan separuh nilainya sejak debut Agustus lalu. CXMT, produsen chip memori, turun lebih dari seperempat hanya dalam sebulan. Moore Threads dan MetaX, dua pembuat GPU yang melonjak ratusan persen saat debut, kini tinggal separuh dari puncaknya. Zhongji Innolight dan Eoptolink, pemasok komponen optik untuk pusat data, jatuh sekitar 60 persen.

Tidak ada satu pemicu tunggal. Para pelaku pasar menunjuk kombinasi yang membosankan tapi mematikan: valuasi yang terlalu tinggi, tagihan pajak, dan ancaman Amerika Serikat melarang perangkat China masuk ke pusat data mereka.

Bagian yang paling susah dicerna: valuasinya

Buatku, angka yang paling menceritakan semuanya bukan penurunan 40 persen itu, melainkan ini: di puncaknya, indeks STAR50 dihargai hampir 250 kali laba setahun terakhirnya.

Dua ratus lima puluh kali. Sebagai pembanding, Nasdaq 100 di Amerika Serikat berada di sekitar 30 kali laba.

Dan yang membuatku menggeleng: setelah jatuh 40 persen pun, valuasi STAR50 masih sekitar 100 kali laba. Artinya gelembungnya boleh pecah, tetapi harganya belum bisa dibilang murah. Morgan Stanley bahkan memperingatkan saham China masih bisa turun 10 sampai 15 persen lagi sebelum menemukan dasar. Beijing sendiri sudah turun tangan, menggelontorkan sekitar 19 miliar dolar AS ke dana ETF untuk menahan laju penurunan, menurut data Bloomberg yang dikutip CNN.

Sementara itu di Amerika, Nasdaq “hanya” turun sekitar 6 persen dari rekor tertingginya. Pasar di sana goyah, pasar di China sudah jatuh duluan. Reuters menyebutnya pertanda buruk bagi pasar dunia yang sedang rapuh, dan aku rasa itu bacaan yang masuk akal.

Yang pecah itu harganya, bukan teknologinya

Di sini aku ingin hati-hati, karena kesimpulan paling gampang dari berita seperti ini biasanya yang paling salah.

Gelembung saham yang pecah tidak sama dengan teknologi yang gagal. Permintaan komputasi AI di China tidak menguap bersama harga sahamnya. Analis IDC di Indonesia bahkan mencatat permintaan chip memori dari para hyperscaler masih jauh melampaui pasokan, dan harga memori diperkirakan terus naik sampai 2027. Aliran modal ke perusahaan AI juga belum berhenti: DeepSeek dilaporkan baru menghimpun pendanaan 15 miliar dolar AS, salah satu yang terbesar dalam sejarah China.

Jadi yang runtuh bukan kebutuhan akan AI. Yang runtuh adalah harga yang bersedia dibayar orang untuk cerita tentang AI, jauh sebelum cerita itu sempat menjadi laba.

Itulah pola klasik setiap gelembung teknologi. Teknologinya nyata, masa depannya juga nyata, tetapi harga sahamnya menulis cek yang tidak bisa ditebus oleh laporan keuangan dalam waktu dekat. Pada akhirnya pasar selalu menagih hal yang sama: bukti, dalam bentuk laba. Bukan demo, bukan jumlah parameter, bukan antusiasme IPO.

Pelajaran buat yang menonton dari jauh

Buatku, kejadian di China ini semacam trailer. Bukan berarti pasar Amerika atau pasar lain pasti mengikuti persis, struktur pasarnya berbeda dan arus modal China jauh lebih tertutup. Tetapi mekanisme psikologisnya sama di mana-mana: ketika satu sektor menyumbang porsi sebesar itu dari nilai pasar dan volume transaksi, koreksinya tidak pernah berhenti di sektor itu saja.

Dan buat builder seperti aku, pelajarannya lebih personal. Nilai sebuah teknologi pada akhirnya diuji bukan oleh seberapa tinggi orang berani membayar ceritanya di pasar, melainkan oleh seberapa nyata masalah yang ia selesaikan untuk penggunanya. Gelembung boleh datang dan pecah silih berganti. Yang bertahan setelah pecahnya biasanya justru yang sejak awal sibuk membangun, bukan sibuk bercerita.

Recommended from Lutfi

See all writings